Kamis, 21 Mei 2015

Serba-serbi Bonceng Motor Balita

Sebagai temporarly single parent #apasih jalan-jalan berdua saja dengan si kecil seringkali harus dilakukan demi menjaga keeksisan. Untungnya setidaknya saya bisa naik motor, sehingga bisa jalan kesana-kemari. Etapi, saya kan juga punya anak balita? Trus gimana dong boncenginnya?? Safety, safety, safety..bahaya kan kalo gendong-gendong balita sambil naik motor..

Pertanyaan tersebut sempat terlintas dan membuat saya agak ngambek ketika suami akhirnya harus pergi ke luar negeri untuk beberapa lama. Tapi ketika pada akhirnya suami pun berangkat, saya pun terpaksa melakukannya.

Infant (dua tahun ke bawah)
Pake gendongan kangguru. Gendongan ini merupakan gendongan teraman dan ternyaman buat gendong bayi. Pastikan juga gendongan tersebut dilengkapi dengan penutup kepala. Anak pun bisa tetap tertidur nyaman dalam gendongan. Karena si anak diletakkan di depan dan kena angin lebih dulu, maka jangan lupa untuk membungkus tubuh si kecil serapat mungkin. Topi, jaket , celana panjang tebal, kaos kaki dan sepatu wajib dipakaikan.



Pake kain jarit tradisional. Ketika anak sudah cukup kuat dan benar-benar tegak, kain jarit tradisional juga nyaman dan aman digunakan asal benar-benar dipastikan ikatannya kencang. Tentu saja gendongan kain jarik ini sebaiknya hanya digunakan untuk jarak dekat saja, misal ke warung atau jajan di sekitar rumah.
Pakai kursi boncengan. Pamakaian kursi boncengan adalah cara terbaik untuk memboncengkan anak ketika anak sudah berumur setahun ke atas. Jangan lupa pula tetap membungkus badannya dengan rapat.



Toddler (balita)

Mulai umur 2 tahun , Fatih saya belikan helm anak-anak. Saya mulai mengenalkan kepada Fatih tentang pemakaian helm tersebut, sehingga akhirnya Fatih tertarik dan ketika dipakaikan tidak rewel. Untungnya pula saya menggunakan motor matic sehingga modelnya memang lebih ramah anak. Fatih saya ajarkan untuk berdiri di belakang setang motor, berpijak pada dasar motor. Posisi ini sebenarnya lebih nyaman juga untuk saya, dibandingkan dengan menggunakan kursi. Saya tidak harus selalu memakai celana panjang. Fatih pun lebih menikmati posisi berdiri ini. Bagian badannya pun terlindungi dari angin karena berada di belakang kemudi. Akan tetapi, mengatur waktu perjalanan sangat penting untuk posisi ini. Jangan sampai mengajak anak bepergian saat ia mengantuk.

Umur 3 tahun ke atas

Menggunakan gendongan boncengan anak. Saat ini berbagai model boncengan anak bisa ditemukan. Salah satunya yang aman adalah gendongan yang mirip dengan tas ransel. Boncengan anak ini menurut saya idela untuk anak berumur di atas 3 tahun karena tinggi badannya memungkinkan si anak sudah merasa nyaman duduk di boncengan belakang. Tangan anak pun sudah mampu berkoordinasi dengan baik untuk memegang pinggang ibunya.



Ada juga model kursi boncengan belakang. Mimpi bener nih punya kursi boncengan belakang seperti ini. Tapi menurut saya boncengan model ini akan lebih cocok untuk anak berumur di atas 4 tahun. Setidaknya saya sebagai ibu tidak akan merasa terlalu was-was karena si anak tidak dalam jangkauan pengawasan  selama berada di atas motor (tidak seperti bonceng depan atau menempel pada ibunya).

 


Akan tetapi meskipun memboncengkan anak dengan posisi teraman sekalipun, saya tidak pernah melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan motor. Jalan-jalan dengan motor hanya saya lakukan di dalam kota Ungaran saja, selebihnya tentu saja saya mengandalkan transportasi umum seperti angkot atau BRT Semarang.  
 

So stay safe and happy ya Buibuu :)